Mybabynmom's Blog

blognya para Mom yg sayang anak!

Membedong Bayi, Dianjurkan atau Malah Membahayakan? Juli 27, 2009

Diarsipkan di bawah: Perawatan Bayi — mybabynmom @ 12:05 pm
Tags: , , , , ,

Tradisi membedong tidak hanya ada di masyarakat Indonesia atau Asia, tapi juga di seluruh dunia termasuk Amerika Selatan, Eropa, Timur Tengah dan Rusia. Hanya saja tradisi ini sempat meluntur di Eropa di abad ke-20 karena dianggap tidak alami. Namun 10 tahun belakangan ini tradisi tersebut kembali popular di Belanda karena dianggap dapat mengurangi tangis dan mengatasi kurang tidur pada bayi. 

 

Cara membedong pun bervariasi. Ada yang membedong dengan ketat ataupun longgar. Tapi umumnya yang dianut di Indonesia adalah membedong dengan ketat untuk mencapai tujuan membedong.

 

Alasan atau tujuan membedong bayi yang diyakini oleh masyarakat Indonesia:

  1. Membuat tidur lebih nyenyak dan bayi lebih tenang karena bayi merasa dipeluk dan mencegah refleks kejut (Stattling/Moro Reflex) pada bayi baru lahir.
  2. Menghangatkan tubuh bayi
  3. Mencegah kaki bengkok pada bayi
  4. Mencegah kaki membuka (mengangkang pada bayi)
  5. Memudahkan dalam memegang dan menggendong bayi

 

Mari kita tinjau satu per satu alasan tersebut:

  1. Membuat tidur lebih nyenyak dan bayi lebih tenang.

Betul, penelitian menunjukkan bayi yang dibedong menangis lebih sedikit dan tidur lebih banyak daripada bayi yang tidak dibedong. Hal ini disebabkan karena bayi merasa nyaman seperti dipeluk seperti halnya dalam rahim ibu. Tapi kalau alasannya untuk  menghindari refleks kejut? Mari kita tinjau lebih lanjut.

Bayi memang mempunyai refleks kejut yang alami dan bisa membuatnya terbangun. Hal ini dikarenakan otot bayi masih lemah sehingga belum dapat mengendalikan diri terhadap rangsangan sekitar berupa suara, sentuhan, dan lain-lain sehingga reaksi kejutnya kelihatan berlebihan. Namun refleks ini termasuk dalam urutan refleks yang diperlukan untuk membangunkan bayi saat bayi memang seharusnya bangun. Bukankah refleks diperlukan untuk mengatasi kondisi yang membahayakan?

Mari kita lihat kejadian SIDS (Sudden Infant Death Syndrome) berupa kematian mendadak pada bayi karena bayi tidak dapat membangunkan dirinya sendiri saat dibutuhkan. SIDS biasanya terjadi saat bayi tidur tengkurap atau hidungnya tertutup sesuatu sehingga karbondioksida yang dihasilkan pada proses pernapasan kembali dihirupnya. Sehingga tingkat kejenuhan (saturasi) oksigen semakin menurun dan karbondioksida semakin meningkat. Normalnya dalam keadaan demikian bayi mengalami refleks kejut dan kemudian bangun, sehingga tidak terjadi SIDS. Dapat kita bayangkan apabila kita membedong bayi dengan alasan untuk menghindari refleks kejut ini, maka bayi akan tetap tidur nyenyak walaupun terjadi perubahan saturasi oksigen dan dapat membawa kematian. Membedong bayi pada posisi telentang dapat menghindari bayi dari kejadian SIDS, karena mencegahnya tengkurap. Tapi apabila bayi sudah dapat tengkurap sendiri, janganlah bayi dibedong karena apabila ia berhasil tengkurap maka susah baginya untuk bergerak untuk mengoreksi posisinya kembali dalam menghindari SIDS.

 

          2.     Menghangatkan tubuh bayi.

Bayi baru lahir memang belum dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan luar tubuh yang lebih dingin daripada suhu waktu ia di dalam rahim. Sehingga kita memang perlu menghangatkan tubuh bayi. Tapi tentunya tidak berlebihan. Menghangatkan tubuh bayi bisa saja dengan menyelimutinya atau membedongnya dengan longgar. Bila ingin memakaikan bedong, perlu dipilih bedong dengan bahan yang tidak terlalu tebal, jangan berlapis-lapis dan pakaian bayi jangan yang tertutup. Karena memanaskan bayi secara berlebihan bisa menjadikannya hipertermia (peningkatan suhu). Perlu juga disesuaikan dengan suhu dan kelembaban setempat. Di Afrika dimana suhu panas dan kelembaban tinggi, membedong bayi secara berlebihan malah dapat mendorong terjadinya infeksi kulit.

 

       3.  Mencegah kaki bengkok pada bayi.

Ini murni mitos. Semua bayi lahir dengan kaki bengkok yang disebabkan karena posisinya yang meringkuk selama di dalam rahim ibu. Penilaian apakah seorang bayi mempunyai kaki O atau tidak baru dapat dilakukan setelah berusia 1 – 2 tahun. Sebaliknya terlalu ketat membedong bayi dimana kaki bayi dibuat lurus dan kedua kaki rapat satu sama lain dapat menyebabkan terjadinya DDH (Developmental Dysplasia of the Hip) yaitu kelainan tulang panggul bayi, subluksasi (bergesernya bonggol sendi paha dari mangkoknya) atau bahkan dislokasi (keluarnya bonggol sendi paha dari mangkoknya)

 

        4.  Mencegah kaki membuka (mengangkang) pada bayi

Wajar bila posisi kaki bayi secara alamiah membuka, tapi hal tersebut tidak berarti dibawa seterusnya hingga dewasa. Pendidikan dan pengarahan yang benar dapat mengatasi hal ini.

 

          5.   Memudahkan dalam memegang atau menggendong bayi.

Hal ini dapat dibenarkan karena dengan dibedong postur bayi terasa lebih stabil.

 

Jadi bagaimana tips-tips membedong bayi?

  1. Tidak membedong bayi tidak ada ruginya.
  2. Bila ingin membedong bayi, taatilah aturan sebagai berikut:
    1. Bedonglah dengan longgar dan jangan sampai bayi kepanasan. Keuntungannya: bayi dapat tetap hangat, tidur lebih nyenyak, tanpa beresiko terjadinya gangguan pertumbuhan tulang ataupun SIDS yang membahayakan dan hipertermia (overheating).
    2. Jangan bedong bayi setelah umur 2 bulan, karena bayi sudah punya kemampuan untuk tengkurap yang bisa membahayakan terjadinya SIDS.
    3. Kenali bayi Anda. Ada bayi yang memang senang dibedong dan adapula yang tidak. Hal ini memudahkan Anda untuk membuat keputusan akan membedongnya dengan longgar, atau tidak membedongnya.

 

Catatan: Apa yang dipaparkan dalam tulisan ini mengacu pada tinjauan sistematis tentang membedong (swaddling) yang dimuat dalam jurnal Pediatrics th 2007 dengan merangkum puluhan tinjauan pustaka tentang membedong dari jurnal ilmiah dengan bahasa yang dibuat awam.

 

Kenaikan Berat Badan Saat Hamil Juli 9, 2009

Diarsipkan di bawah: Kehamilan — mybabynmom @ 6:13 am
Tags: , , ,

Banyak ibu hamil cemas dengan kenaikan berat badannya saat hamil. Ada yang merasa terlalu banyak kenaikannya atau sebaliknya ada yang cemas karena hanya naik sedikit. Sebenarnya berapa yang ideal? Faktor apa saja yang menentukan? Temukan jawabannya menurut American Pregnancy Association.

 

Kenaikan berat badan yang ideal membantu Anda untuk menurunkan resiko wasir, varises, stretch mark, nyeri punggung, letih, dan napas terengah-engah selama hamil.

 

Sebenarnya lari kemana saja kenaikan berat badan tersebut?

Kenaikan berat badan saat hamil terdistribusi sebagai berikut:

 

Bayi                             : 3.5 – 4 kg

Plasenta                        : ½ – 1 kg

Cairan ketuban : 1 kg

Rahim                           : 1 kg

Jaringan payudara         : 1 kg

Darah ibu                     : 2 kg

Cairan tubuh ibu           : 2 kg

Lemak ibu dan simpanan zat gizi : 3.5 kg

 

Lalu berapa kenaikan berat badan yang ideal selama hamil?

Hal ini tergantung dari berat badan dasar si Ibu.

 

Bila ibu mempunyai berat badan normal sebelum hamil: 12.5 – 18.5 kg

Bila ibu underweight sebelum hamil:     14 – 20 kg

Bila ibu overweight sebelum hamil: 7.5 – 12.5 kg

 

Bagaimana dengan kecepatan kenaikan berat badan?

American Pregnancy Association menganjurkan sebagai berikut:

Ibu dengan berat badan normal:

Trimester I: naik 1.5 – 2.5 kg

Trimester II & III: naik ½ – 1 kg/minggu

 

Ibu underweight :

Trimester I: 2.5 – 3 kg

Trimester II & III: naik ½ – 1 kg/ minggu

 

Ibu overweight :

Trimester I: ½ – 2 kg

Trimester II & III: naik ½ kg/minggu

 

Protokol Penyimpanan ASI di Rumah untuk Bayi Cukup Bulan (The Academy of Breastfeeding Medicine) Juli 6, 2009

Diarsipkan di bawah: Perawatan Bayi — mybabynmom @ 9:10 am
Tags: , , ,

Artikel ini merupakan terjemahan dari ABM Protocols yang dipersembahkan untuk para working mom yang tetap mau memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama untuk bayinya. Jadi tidak asal simpan tapi banyak hal-hal yang perlu diperhatikan.

 

Tempat Penyimpanan

  1. Untuk penyimpanan dalam jangka panjang, lebih disarankan menggunakan wadah yang kokoh, seperti botol/toples plastic keras atau kaca. Wadah ini harus mempunyai tutup yang kuat sehingga kedap udara.
  2. Kantong plastic (plastic bag) secara khusus hanya dirancang untuk penyimpanan dalam waktu yang singkat (kurang dari 72 jam). Jadi pemakaian kantong plastic tidak disarankan untuk penyimpanan jangka panjang, karena bisa tumpah, bocor, atau lebih mudah terkontaminasi daripada wadah yang kokoh/keras, lagipula komponen ASI yang penting dapat menempel pada plastic yang lunak dan bisa hilang.

 

Petunjuk Umum

  1. Cucilah tangan sebelum memerah.
  2. Gunakan wadah dan alat pompa yang sudah dicuci dengan sabun, dibilas dan dipanaskan. Jika ada, bisa dicuci di dishwasher, karena dishwasher dilengkapi dengan pemanas air sehingga akan lebih bersih. Jika tidak ada dishwasher, disarankan merebus wadah setelah pencucian. Merebus terutama disarankan pada daerah dimana persediaan air tidak terjamin kebersihannya.
  3. Simpan dalam porsi kecil untuk meminimalkan ASI yang terbuang. Simpanlah dalam takaran 60 ml dan bila bayi masih lapar dapat ditambah dengan porsi kedua supaya ASI yang tidak habis tidak terbuang percuma.
  4. Simpanlah juga dalam porsi yang lebih kecil misalnya 30 – 60 ml untuk tambahan atau untuk situasi yang tidak diharapkan. Susu dalam jumlah sedikit dapat membuat bayi tetap merasa senang sampai ibunya datang untuk menyusui secara langsung.
  5. Susu yang didapat dari perahan di kantor dapat ditambahkan ke ASI yang telah ditaruh di kulkas pada hari yang sama dengan syarat sebelumnya dimasukkan ke kulkas dulu selama minimal 1 jam. Jadi setelah suhunya diperkirakan sama, baru bisa dicampur, tapi dengan syarat di hari yang sama. Jangan mencampur dengan ASI yang diperah hari sebelumnya.
  6. Jangan mencampur ASI yang baru diperah (masih hangat) dengan ASI yang sudah dibekukan karena akan mencairkan ASI yang telah beku tersebut.
  7. Tempelkan label pada wadah ASI dan tuliskan informasi dengan jelas tanggal ASI diperah, dan pisahkan dengan ASI dari hari atau tanggal yang berbeda.
  8. Jangan isi penuh wadah, sisakan ruang kosong karena saat membeku ASI biasanya memuai.
  9. Jangan heran bila komponen ASI memisah selama disimpan karena memang ASI tidak homogen. Bagian krimnya akan naik ke atas dan kelihatan lebih kental dan putih. Sebelum diberikan, goyang-goyangkan wadah ASI secara lembut agar komponen ASI menyatu kembali. Tapi jangan kocok kuat-kuat.
  10. Warna ASI dapat bervariasi dari hari ke hari tergantung dari makanan yang Ibu makan. Bisa agak kebiruan, kekuningan atau kecoklatan. ASI yang dibekukan juga baunya akan beda dengan ASI yang masih segar. Tidak ada alasan untuk tidak menggunakan ASI bila bayi dapat menerimanya.

 

Panduan Menyimpan ASI

  1. ASI dapat disimpan pada suhu ruang (≤ 25 C) selama 6 – 8 jam. Suhu ruang yang > 25C tidak dapat disamakan keamanannya dengan penyimpanan pada suhu ruang ≤ 25 C. Wadah harus ditutup dan dijaga sedinign mungkin; menutup wadah dengan kain dingin dapat menjaganya lebih dingin.
  2. ASI dapat disimpan dalam tas pendingin (cooler bag) tertutup dengan ice pack selama 24 jam.
  3. ASI aman ditaruh di kulkas hingga 5 hari. Simpanlah ASI di bagian belakang bagian utama kulkas, karena suhu disanalah yang paling dingin.
  4. Jenis freezer tempat ASI disimpan sanag menentukan lama ASI beku dapat disimpan. Secara umum, simpanlah ASI di bagian belakang freezer dimana suhu paling konstan.
    1. Bila freezer menjadi satu dengan kulkas (kulkas 1 pintu) dengan suhu -15C, maka ASI dapat bertahan selama 2 minggu
    2. Bila freezer berbeda pintu dengan kulkas bawah (kulkas 2 pintu) dengan suhu -18C, maka ASI dapat bertahan 3 – 6 bulan.
    3. Bila menggunakan freezer khusus seperti chest freezer atau upright manual defrost deep freezer yang jarang dibuka dengn suhu -20C, maka ASI dapat bertahan 6 – 12 bulan.
  5. Pandun diatas hanya berlaku untuk bayi cukup bulan yang sehat; panduan akan berbeda lagi untuk bayi prematur, sakit, atau dirawat.

 

Thawing (Mencairkan susu yang beku) atau Menghangatkan Susu

  1. Gunakan ASI yang lebih lama terlebih dahulu.
  2. Bayi boleh diberi ASI dalam keadaan dingin, setara dengan suhu ruang, atau  dihangatkan.
  3. Thaw ASI dengan meletakkannya pada kulkas semalam sebelum akan digunakan atau hangatkan dengan menaruhnya pada wadah berisi air hangat.
  4. Jangan sampai batas air hangat rendaman di mangkok menyentuh bibir wadah ASI.
  5. ASI dapat disimpan di kulkas selama 24 jam setelah di-thawed.
  6. Jangan pernah gunakan microwave oven atau kompor untuk memanaskan susu, karena dapat meletup dan dapat merusak antibodi dalam ASI.
  7. Goyang-goyang wadah ASI untuk mencampur kembali krim yang memisah, dan untuk menyebarkan hangatnya. Jangan diaduk.
  8. ASI yang tertinggal di wadah setelah diberikan ke bayi harus dibuang dan jangan dipakai lagi.
  9. Seperti halnya semua makanan, jangan membekukan kembali ASI setelah dihangatkan.
 

Tumbuh Gigi pada Bayi, Bagaimana Menanganinya? Juli 3, 2009

Diarsipkan di bawah: Perawatan Bayi — mybabynmom @ 9:19 am
Tags: , , ,

Tumbuh gigi adalah proses alami yang harus dilewati dalam masa pertumbuhan seorang bayi. Gigi pertama biasanya muncul di umur 4 – 8 bulan, walaupun beberapa variasi ditemukan berkaitan dengan faktor genetik dan juga asupan kalsium si Ibu selama hamil.

 

Proses tumbuh gigi umumnya tidak menimbulkan rasa sakit tapi beberapa bayi mengalami rasa tidak nyaman sehingga menyebabkan rewel, tidak mau makan atau minum, dan bahkan kadang hingga demam.

 

Untuk membantu proses tumbuh gigi dapat diberikan teething ring yang dingin ataupun waslap yang telah direndam air dingin untuk mengurangi rasa tidak nyaman tersebut. Atau apabila proses tumbuh gigi demikian mengganggu Ibu dapat memberikan teething balm atau teething gel yang berfungsi mengurangi rasa tidak nyaman dan rasa nyeri yang mungkin timbul.

 

Bila gigi sudah tumbuh, perlukah Ibu menggosok gigi bayi?

 

Anjuran dari American Academy of Family Physician adalah hingga umur 1 tahun gigi bayi belum perlu disikat. Cukup gunakan kasa ataupun waslap basah untuk membersihkan gigi, gusi, serta lidah bayi. Apabila anak sudah berumur 12 – 18 bulan, kita boleh mulai memperkenalkan anak pada sikat gigi, tentunya yang lembut dan ukurannya sesuai dengan mulut si batita yang masih kecil. Saat ini tidak disarankan memberikan pasta gigi yang berfluoride, karena anak umumnya belum dapat melepeh melainkan akan ditelan apalagi bila mengandung perasa atau pewangi buah. Tertelannya fluoride dapat menyebabkan fluorosis (kadar fluor yang berlebihan dalam darah), yang dapat menimbulkan osteoporosis dan kerusakan saraf. Apabila tersedia pasta gigi yang tidak mengandung fluoride, maka dapat digunakan, karena relatif aman bila tertelan. Tapi tetap dianjurkan Ibu mengajari anak untuk melepeh untuk proses belajar menyikat gigi selanjutnya. Setelah anak dapat melepeh, diperkirakan umur 4 tahun ke atas, maka Ibu dapat memberikan pasta gigi yang mengandung fluoride kepada anak-anak.

 

Fluoride, sebenarnya baik atau berbahaya untuk kesehatan gigi?

 

Walaupun masih pro-kontra, namun beberapa pakar meyakini fluoride membantu menjaga kesehatan gigi, mencegah gigi berlubang, dengan cara menghambat enzim penghasil asam di rongga mulut, dan mengikat kalsium yang bagus untuk menguatkan gigi. Tapi dibalik manfaatnya, fluoride juga mempunyai efek samping apabila tertelan dengan kadar lebih dari normal yaitu dapat menimbulkan osteoporosis dan juga kerusakan saraf.

 

Berapa batas maksimum fluoride yang masih dianggap aman?

Mengingat bahaya fluoride, beberapa negara menurunkan batas maksimum fluoride yang diperbolehkan. Sebagai contoh di beberapa negara Eropa, Australia dan Eropa batas maksimum fluoride menjadi 250 – 500 ppm. Sedangkan di Indonesia batas yang diperbolehkan oleh Badan POM masih terlalu tinggi yaitu 800 – 1500 ppm. Tak heran bila dari temuan tim peneliti dari Lembaga Konsumen Jakarta Public Interest Research and Advocacy Center (LKJ PIRAC), hampir seluruh pasta gigi anak yang beredar di Indonesia mempunyai kadar fluoride lebih dari 1000 ppm. Oleh karena itu tim peneliti ini menghimbau Badan POM untuk menurunkan standard batas maksimum fluoride dari 800 – 1500 ppm menjadi maksimal 500 ppm sesuai dengan standard di luar negeri.

 

USG 3D/4D pada Kehamilan, Amankah? Kapan Sebaiknya Dilakukan? Juli 3, 2009

Diarsipkan di bawah: Kehamilan — mybabynmom @ 7:35 am
Tags: , , ,

Sekarang USG 3 dimensi atau 4 dimensi banyak diminati calon parents karena dianggap lebih real dalam melihat janin mereka, hingga raut wajahnya dapat terdeteksi dengan jelas. Nah kalau sudah begitu tinggal dibahas mirip siapa ya? Ayahnya, ibunya, atau kakek neneknya? Sebenarnya apa yang perlu Mom & Dad ketahui tentang USG 3D/4D ini?

USG merupakan cara imaging dengan teknologi menangkap gelombang suara yang dipantulkan dari objek yang ingin dilihat, dalam hal ini si janin. USG 2 dimensi sudah sering dilakukan, bagaikan selembar roti tawar, dapat dilihat gambaran janin 2 dimensi. USG 3 dimensi menggunakan teknologi yang sama saja dengan USG 2 dimensi hanya saja gambar yg ditangkap oleh USG 2 dimensi dilihat pada sudut yang berbeda sehingga timbullah gambaran 3 dimensi. Sedangkan USG 4 dimensi hanya istilah apabila gambar bergerak itu direkam menjadi sebuah video yang bisa ditonton bak menonton video klip.

Bagaimana keamanannya?
Sebenarnya keamanan USG 3 atau 4 dimensi sama saja dengan USG 2 dimensi karena teknologinya sama dan kekuatannya pun sama, hanya saja cara kerjanya yang berbeda. FDA telah memberikan batasan energi yang dapat dikatakan aman untuk USG sebesar 94 mW/cm2 yang wajib ditaati oleh pabrik pembuat mesin USG, Jadi, USG yang ada di pasaran secara umum memenuhi batas keamanan dari FDA, tapi tetap saja keamanan USG belum dapat disimpulkan secara pasti. Bahkan ada lebih dari satu laporan yang menyebutkan resiko bayi laki-laki menjadi kidal berhubungan dengan dilakukannya USG 3 dimensi. Sehingga konsensus menganjurkan pemeriksaan USG hendaknya dilakukan hanya atas indikasi medis, bukan yang non medis (psikososial atau untuk entertainment).
Ada 3 aspek yang perlu diperhatikan berkaitan dengan keamanan USG 3 atau 4 dimensi, yaitu:
o Durasi
o Intensitas
o Frekuensi

Durasi yang dianggap aman adalah tidak melebihi 30 menit.

Intensitas dianggap aman apabila tidak melewati kekuatan energi yang ditentukan oleh FDA. Untuk itu alat USG harus dimaintain dengan baik dan teratur. Teknisi atau dokter yang melakukan USG hendaknya juga sudah terlatih dengan baik untuk menghindari kesalahan penafsiran. Intensitas yang lebih besar umumnya diperlukan untuk mendengarkan detak jantung bayi. Dan disarankan pemeriksaan USG untuk mendeteksi detak jantung bayi dilakukan minimal bila kehamilan telah mencapai 12 minggu, walaupun sebetulnya detak jantung bayi telah dapat didengar pada kehamilan 9 minggu.

Sedangkan frekuensi, tidak disarankan dilakukan USG lebih dari 1 kali dalam sebulan.

Apa tujuan pemeriksaan USG 3 atau 4 dimensi atas indikasi medis?
1. Kondisi kehamilan
a. Umur kehamilan
b. Menilai janin tunggal atau kembar atau kembar abnormal
c. Letak plasenta
d. Kelainan organ kandungan
2. Kondisi janin
a. Jenis kelamin janin
b. Cacat bawaan seperti bibir sumbing, kelainan jantung mayor,

Kapan saja waktu yang tepat untuk melakukan USG 3 dimensi atau 4 dimensi?

Pada prinsipnya USG 3 dimensi lebih mudah terlihat apabila cairan ketuban masih relatif banyak dan besarnya janin belum memenuhi seluruh rongga panggul ibu. Sehingga USG 3 atau 4 dimensi tidak disarankan dilakukan bila kehamilan sudah melebihi 32 minggu. Dan dianjurkan juga hari-hari sebelum dilakukan USG 3D/4D sang ibu minum air putih lebih banyak agar volume cairan ketuban mencukupi untuk USG.

Jadi kesimpulannya apa keuntungan dan kerugiannya USG 3D/4D?
USG 3D/4D bagai pedang bermata dua.
USD 3D/4D dapat menjadi positif karena:
o Deteksi kelainan pada kehamilan maupun janin menjadi lebih akurat
o Gambaran yang lebih real dapat meningkatkan ikatan batin ibu dan anak, menghindari si Ibu dari depresi pasca melahirkan, dan dapat menjalani kehamilan dengan lebih siap
Tapi sekaligus dapat menjadi negatif apabila:
o Parents menganggap bahwa pemeriksaan USG ini dapat menggantikan pemeriksaan rutin antenatal. Salah besar! Pemeriksaan antenatal seperti tekanan darah ibu, kenaikan berat badan ibu sangat penting. Jangan sampai Mom & Dad tidak melakukan pemeriksaan antenatal karena menganggap sudak cukup dengan periksa USG 3D.
o Ditinjau dari durasi, intensitas dan frekuensinya melebihi batas yang dianjurkan atau dilakukan diluar indikasi medis.