RSS

Sunat Bayi

Kedatangan bayi laki-laki di tengah keluarga biasanya disambut dengan gembira. Lepas dari budaya manapun, laki-laki kerap diidentikkan dengan ‘jagoan’. Namun pertanyaan berikutnya apakah bayi saya perlu disunat? Dan bila ya, kapan sebaiknya dilakukan? Selagi bayi, anak, atau setelah dewasa? Apa saja konsekuensinya? Metode sunat apa yang paling aman? Yuk kita simak artikel berikut. Tidak ada yang benar ataupun salah, semua keputusan diserahkan pada masing-masing orang tua. Artikel ini hanya membantu Anda sebagai orang tua untuk memutuskan apa yang paling tepat untuk anak Anda. Selamat membaca!

Sunat adalah tindakan membuang kulit kulup (preputium) yang menutupi kepala penis (glans penis). Sunat bisa dilakukan atas indikasi medis misalnya:

- phimosis (kulit kulup tidak dapat ditarik ke belakang)
- paraphimosis (kulit kulup setelah ditarik ke belakang tidak dapat kembali menutupi kepala penis)
- balanitis (radang pada kepala penis)
- posthitis (radang di kulit kulup)

Bila ada indikasi medis, sunat bisa dilakukan kapan saja.

Sunat juga bisa dilakukan tanpa indikasi medis (biasanya atas pertimbangan agama, budaya, atau pilihan seseorang).

American Academy of Pediatrics (AAP) yang kerap dijadikan referensi tidak pernah merekomendasikan sunat sebagai sesuatu yang harus atau rutin dilakukan pada setiap bayi laki-laki yang baru lahir (biasanya dalam 10 hari pertama) tanpa indikasi medis, karena memang keuntungan sunat tidak cukup kuat untuk membuat sunat menjadi sesuatu yang diwajibkan pada bayi baru lahir. Namun semua keputusan diserahkan pada orang tua masing-masing yang kerap dipengaruhi oleh agama ataupun budaya.

Keuntungan sunat:

  1. Lebih mudah dibersihkan. Tindakan membersihkan penis menjadi lebih sederhana daripada penis yang tidak disunat.
  2. Mengurangi risiko infeksi saluran kencing menjadi 1/10 kalinya.
  3. Mencegah timbulnya masalah lain pada penis misalnya fimosis (kulit kulup tidak dapat ditarik ke belakang), radang penis, dan lain-lain.
  4. Mengurangi risiko kanker penis.
  5. Mengurangi risiko terkena penyakit menular seksual.

Risiko sunat:

  1. Risiko tindakan bedah itu sendiri:
    1. perdarahan terus-menerus
    2. infeksi
    3. kelebihan atau kekurangan potong kulit kulup, sehingga diperlukan bedah minor untuk memperbaikinya
    4. retensi urin (tidak bisa kencing), bisa terjadi karena bayi merasa sakit sehingga enggan mengeluarkan air seninya atau ada masalah penyempitan di saluran kencingnya. Waspada apabila bayi Anda tidak pipis selama 8 jam setelah sunat, segera hubungi dokter.
  2. Risiko anestesi: tindakan sunat menimbulkan rasa sakit. Oleh karena itu diperlukan anestesi. Pada bayi baru lahir hanya anestesi lokal yang diperlukan. Pada anak yang lebih besar diperlukan anestesi umum karena anak sudah bisa berontak dan mengganggu jalannya bedah. Pada bayi baru lahir anestesi lokal dilakukan dengan menginjeksi obat anestesi pada saraf di penis. Pada tindakan ini apabila pembuluh darah ikut tertusuk, maka akan terjadi memar (perdarahan dalam) pada penis. Beberapa senter menggunakan krim anestesi topikal tapi tidak dianjurkan pada bayi usia kurang dari 1 bulan.
  3. Nyeri. Walaupun masih bayi anak sudah dapat merasakan nyeri seperti halnya kita orang dewasa. Manifestasinya mungkin bayi akan menjadi lebih rewel, dan lebih banyak tidur, lebih banyak butuh disusui. Bantu bayi Anda mengatasi rasa nyerinya ini dengan memberinya pelukan, susui sering-sering, dan rawat luka di penisnya dengan hati-hati. Dokter akan memberikan obat pengurang nyeri tapi tidak akan 100% efektif.

Umur berapa sebaiknya sunat dilakukan?

Ada banyak pendapat mengenai usia ideal dilakukan sunat. Ada yang menyebut saat masih bayi baru lahir karena proses anestesi lebih sederhana yaitu dengan anestesi lokal, prosedur lebih sederhana, dan proses penyembuhan lebih cepat (7 – 10 hari). Ada juga yang menyebutkan idealnya sebelum usia akhil balik misalnya 12 – 13 tahun dengan mempertimbangkan keputusan sunat juga sudah disetujui individu yang bersangkutan dan anak sudah cukup koperatif untuk tidak berontak saat operasi dan saat ini jaringan penis maupun kulit kulupnya sudah berkembang dengan sempurna sehingga kemungkinan kesalahan bedah lebih minimal. Sekali lagi Andalah yang menentukan usia sunat yang tepat bagi bayi Anda.

Metode Sunat

Metode sunat macam-macam dari yang konvensional, menggunakan klem, maupun dengan laser.

  1. Metode konvensional. Pada metode ini kulit kulup dibuang dengan pisau lalu dijahit dengan benang yang menyatu dengan kulit. Metode ini cocok dilakukan untuk segala umur dan ideal untuk kasus fimosis. Biaya untuk metode konvensional umumnya cukup tejangkau, tapi prosedurnya membutuhkan waktu lebih lama yaitu sekitar 15 – 20 menit.
  2. Metode klem. Prinsipnya kulit kulup dijepit lalu dipotong tanpa perlu dijahit. Sekarang banyak variasi alat klem yang dikembangkan dari Gomco clamp,Taraclamp (metode cincin), Smart clamp, dan lain-lain. Kelebihan metode klem adalah prosesnya yang singkat (sekitar 5 menit), risiko perdarahan minimal bahkan hampir tidak ada, rasa sakit sangat minimal. Tapi kekurangannya operator butuh keahlian khusus dan harganya cukup mahal. Metode ini cocok untuk bayi baru lahir.
  3. Metode ”Laser”. Sebenarnya istilah laser pada masyarakat awam sering dikacaukan.Ada2 metode:
    1. Elektrokauter. Sebenarnya ini bukan laser karena tidak memakai sinar laser, melainkan kulit kulup dipotong dengan cara ’dibakar’ dengan aliran listrik yang mengalir pada elemen logam (seperti solder panas). Keuntungan metode elektrokauter ini adalah perdarahan minimal karena dengan dibakar maka pembuluh darah akan menutup. Kerugiannya metode ini tergantung dengan aliran listrik, dimana bila ada kebocotan atau kerusakan alat maka sengatan listrik bisa membahayakan pasien maupun operator. Metode ini cocok untuk anak di bawah 3 tahun karena pembuluh darah masih kecil.
    2. Metode laser CO2. Metode ini yang lebih tepat untuk istilah sunat dengan laser. Peran laser CO2 adalah untuk memotong kulit kulup setelah sebelumnya dijepit dengan klem. Hasilnya kulit kulup terpotong tanpa ada setetes darah pun. Tapi tetap harus dijahit agar penyembuhan lebih sempurna. Lamanya pengerjaan sekitar 10 – 15 menit. Keuntungannya: perdarahan hampir tidak ada, proses cepat, rasa sakit minimal, dan secara estetik lebih baik. Kerugiannya: mahal dan hanya ada di rumah sakit besar. Metode ini cocok anak pra pubertas.

Cara Perawatan Luka Pasca Sunat

Setelah sunat dilakukan Dokter akan memerikan petroleum jelly pada penis bayi Anda untuk mencegah menempelnya dengan pakaian atau diaper atau dibungkus kendur dengan kasa. Gantilah kasa setiap mengganti popok dan oleskan petroleum jelly untuk menghindari menempel pada diaper. Catatan: Bila bayi Anda disunat dengan metode cincin, penis tidak ditutup kasa melainkan cincin akan lepas sendiri kira-kira dalam jangka waktu 1 minggu. Setelah penis sembuh, maka Anda dapat memandikan dan mencucinya dengan air dan sabun seperti biasa.

Cara Perawatan Penis Bayi Bila Anda Memutuskan untuk Tidak Menyunat Bayi Anda

Tidak perlu menarik kulit kulup ke belakang saat membersihkannya sebelum anak Anda berusia 5 tahun. Sabuni saja seperti biasa. Setelah umur 5 tahun umumnya kulit kulup sudah dapat ditarik ke belakang dengan mudah sehingga Anda dapat mengajar anak Anda untuk menariknya ke belakang setiap kali mandi saat membersihkannya dengan air dan sabun, bilas dengan air, dan kembalikan ke posisi semula menutupi kepala penis. Selesai mandi, keringkan dengan handuk dengan cara yang sama.

 
18 Komentar

Posted by pada September 8, 2009 in Perawatan Bayi

 

Tag: , , , , , , , , , ,

Segala Hal tentang Tidur Pada Bayi/Anak

Pola Tidur

Bayi baru lahir dalam minggu pertama tidur selama 14 – 18 jam dalam sehari. Setelah itu hingga 1 bulan tidur selama 12 – 16 jam/hari. Biasanya terbangun tiap 2 – 4 jam.

Bayi umur 3 – 6 bulan tidur selama 12 – 15 jam dalam sehari tapi sudah menunjukkan pola tidur yang teratur. Selain itu bayi sudah dapat tidur lebih lama saat malam hari, bisa sampai 5 – 6 jam, sehingga tengah malam bisa hanya bangun 1 – 2 kali.

Nah apabila bayi Anda sudah mencapai umur 6 – 9 bulan, lamanya tidur dalam sehari memang masih 11 – 15 jam tapi tidur siangnya sudah terpola jadi hanya 2 kali yaitu pagi dan sore. Saat ini apabila Anda menginginkannya Anda dapat biarkan ia tidur sepanjang malam tanpa harus disusui. Tapi apabila Anda memberinya ASI tentunya Anda bisa manfaatkan waktu yang panjang ini untuk memerah ASI dan biarkan Ia tetap tidur.

Lalu apakah bayi perlu dibangunkan untuk menyusui apabila dia tidur pulas pada malam hari?
Jawabannya tergantung usianya dan tergantung apakah bayi Anda termasuk underweight (berat badan di bawah normal). Secara teori bayi 0 – 3 bulan boleh tidur tanpa asupan susu selama maksimal 5 jam, sedangkan di atas 3 bulan boleh 6 – 8 jam tidur tanpa perlu dibangunkan untuk menyusu. Tentunya bila Anda memberi ASI, Anda tetap perlu memerah ASI 3 – 5 jam sekali untuk menjaga produksi ASI tetap banyak. Apabila bayi Anda termasuk underweight, Anda tetap perlu membangunkannya untuk menyusu untuk meningkatkan asupan nutrisinya.

Tempat Tidur bayi
Untuk mencegah bayi tertindih oleh ibu atau ayahnya sebaiknya tempatkan bayi di boks atau tempat tidur bayi yg diletakkan tepat di samping tempat tidur Ibu. Matras sebaiknya dipilih yang tidak terlalu empuk sehingga menghindari hidung bayi terbenam dan menutupi jalan napas bayi. Tidur tengkurap diperbolehkan apabila bayi sudah dapat membolak-balikkan badannya dari telentang – tengkurap – telentang.

Posisi Tidur
Bayi dianjurkan untuk tidur terlentang dan tidak tengkurap untuk mengurangi resiko SIDS (Sudden Infant Death Syndrome). Kejadian SIDS lebih banyak pada mereka yang tidur tengkurap daripada terlentang.

Temperatur
Bayi baru lahir memerlukan kehangatan yang lebih daripada orang dewasa. Oleh karena itu jaga tubuhnya tetap hangat dengan memberinya baju tangan panjang atau ditutup dengan selimut. Setelah bayi berumur 1 bulan ia sudah dapat menyesuaikan diri dengan suhu sekitarnya. Pakaikan baju hangat bayi secukupnya.

Jangan sampai overheating. Suhu yang terlalu panas juga merupakan faktor resiko terjadinya SIDS.

Pada saat bayi batuk atau pilek, set temperatur lebih hangat daripada biasa. Matikan AC. Suhu yang terlalu dingin membuat saluran napasnya yang menyempit karena proses radang menjadi semakin sempit. Sebaliknya suhu yg hagat akan membuka saluran napasnya dan dapat membuatnya tidur lebih enak.

Bagaimana menerapkan disiplin tidur?

  1. Buatlah ritual atau rutinitas tirus. Misalnya gosok gigi, cuci tangan, ganti baju tidur, cuci kaki, nyanyikan lagu “Nina Bobok”, bacakan 1 cerita dongeng atau matikan lampu. Lakukan terus-menerus setiap hari sehingga anak Anda terbiasa apabila sudah ada ritual ini akan datang rasa kantuk atau minimal ia tahu ia harus tidur.
  2. Jaga jadwal yang konsisten. Jangan berubah-ubah waktu. Misalkan Anda tetapkan anak tidur jam 9 malam, lakukan terus ritual tidur jam 9 malam.
  3. Dorong anak untuk bisa tidur sendiri (fall asleep on his own, bukan sleep alone lho ya…)

Bagaimana bila bayi tidur di payudara ibu atau di gendongan ibu?

Bayi yang kenyang setelah menyusui cenderung tertidur karena perutnya merasa nyaman. Namun jangan biasakan bayi menyusu hingga tertidur, karena ia akan punya kebiasaan harus menyusu dahulu supaya bisa tidur. Dan kebiasaan ini tentunya tidak baik. Anda bisa membangunkannya dengan menggelitik telapak kakinya.

Demikian pula jangan tidurkan bayi dengan menggendongnya sampai tertidur. Bayi memang membutuhkan rasa nyaman untuk membantunya tidur. Anda boleh menggendongnya untuk membantunya lebih tenang, tapi saat dia sudah tenang, letakkan bayi di tempat tidurnya. Dengan demikian Anda mendisiplinkannya untuk menjadi anak yang mandiri dan tidak harus digendong untuk bisa tidur.

Masalah yang Dapat Timbul Seputar Tidur

  1. Jeda napas. Bayi kurang dari 6 bulan bisa secara normal melambat napasnya saat tidur hingga maksimal 15 detik, hal ini disebut “periodic breathing”. Bila lebih dari 15 detik dan bila terjadi juga setelah anak > 6 bulan, hubungi Dokter. Apabila Anda menjumpai anak Anda berhenti bernapas dan kulitnya kebiruan (terutama sekitar mulut, tangan, dan kaki apalagi seluruh badan), maka anak Anda mengalami sleep apnea dan segera beri pertolongan resusitasi jantung paru atau telepon ambulans.
  2. Mengorok. Mengorok itu normal apalagi pada anak yg sedang pilek. Tapi apabila mengoroknya disertai dengan jeda napas sesekali dan diikuti dengan gelagapan, maka waspadai apakah ada sumbatan jalan napas misalnya akibat tonsil (amandel) atau kelenjar adenoid yang membesar. Bedanya dengan sleep apnea, kejadian ini bukannya tiba-tiba tapi kronis, perlahan-lahan timbulnya dan terus-menerus. Sebaiknya Anda pergi ke dokter THT untuk menlai besarnya tonsil dan apakah ada adenoid.
  3. Berkeringat. Walaupun berkeringat saat tidur adalah wajar akibat dalamnya tidur, keringat yang berlebihan perlu dicurigai sebagai salah satu tanda penyakit jantung bawaan atau bisa juga karena adanya penyakit infeksi.
  4. Menggertakan gigi. Biasa terjadi pada anak yang baru tumbuh gigi (sekitar umur 6 bulan) atau yang mau tumbuh gigi tetap (sekitar 5 tahun). Hal ini biasanya terjadi karena anak merasa tidak nyaman dengan giginya.
 
2 Komentar

Posted by pada Agustus 31, 2009 in Perawatan Bayi

 

Tag: , , , , , ,

Mengompol

Siapa yang tidak pernah ngompol…??? Saya yakin pasti tidak ada yang mengangkat tangan karena mengompol pasti pernah dialami setiap manusia. Tetapi kalau seorang anak tetap mengompol setelah melewati usia 6-7 tahun, akan menjadi suatu pertanyaan. Normalkah anakku?

Pertama-tama kita akan mengulas tentang ngompol itu sendiri. Apa itu ngompol? Ngompol atau yang nama keren kedokterannya dikenal dengan nokturnal enuresis ialah pengeluaran urine yang tidak disadari pada saat tidur. Terkadang definisi ngompol juga digunakan untuk menyebut anak yang gagal mengontrol pengeluaran urine saat mereka dalam kedaan terjaga.

Jenis  ngompol dibagi 2 : ngompol primer yaitu ngompol sejak bayi  dan ngompol sekunder yaitu kembali mengompol setelah anak tidak pernah ngompol lagi selama minimal 6 bulan.

Penyebab ngompol primer disebabkan adanya keterlambatan proses pematangan sistem saraf pada anak  dimana adanya ketidakmampuan otak untuk menangkap sinyal  yang dikirimkan oleh kandung kemih, gangguan hormonal, kelainan anatomi, misal kandung kemih yang kecil dan tidur yang sangat dalam sehingga anak tidak terbangun pada saat kandung kemih sudah penuh. Sedangkan penyebab dari ngompol sekunder bisa dikarenakan infeksi saluran kemih, gangguan metabolisme (kencing manis usia dini), gangguan saraf tulang belakang, tekanan yang berlebihan pada kandung kecing terutama disebabkan karena gangguan pengeluaran kotoran sehingga akumulasi kotoran pada usus besar akan menekan kandung kencing.  Bahkan keadaan stress juga dapat memicu terjadinya ngompol sekunder.

Sebagai gambaran saja, saya tampilkan grafik perbandingan anak-anak yang masih mengompol berdasarkan usia:

  graphic ngompol

(Sumber: The Royal Children Hospital Melbourne;2008).  Grafik ini diambil dari negara bagian Australia yaitu Victoria, sebanyak 37 ribu anak usia 4-15 tahun.

Penanganan apa saja yang bisa dilakukan orang tua?

  1. Orang tua ada baiknya mencari tahu, apakah si anak dalam keadaan stress baik dirumah ataupun disekolah sebab stress dapat memacu timbulnya ngompol.
  2. Membatasi minum setelah makan malam.
  3. Biasakan anak untuk buang air kecil dahulu sebelum tidur.
  4. Bila orang tua mengetahui kira-kira jam anak mengompol, bangunkan anak sebelumnya untuk buang air kecil.
  5. Kadang cara pemberian reward (pujian ataupun hadiah) juga berhasil dalam mengatasi ngompol ini. Orang tua yang selalu memberikan motivasi yang tinggi pada anak untuk mengontrol kebiasaan ngompol akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan sang anak dalam mengendalikan pengeluaran urine.
  6. Bila semua telah dilakukan dan tetap tidak berhasil, dapat dipertimbangkan untuk memeriksakan anak ke dokter. Terapi yang mungkin dilakukan adalah pemberian obat – obatan yang bekerja di saraf ataupun yang mengurangi produksi urine. Cara lain adalah memasang  alat sensor khusus atau sensor alarm.

Mengatasi ngompol bukanlah hal yang mudah. Diperlukan kerjasama antara orangtua, anak dan dokter (bila antara orang tua dan anak tidak berhasil). Dalam hal ini diperlukan kebijaksanaan, kesabaran dan pengertian orang tua dan tidak mengejek atau mengolok-olok anak.

Satu hal menarik yang saya baca adalah pemberian ASI dapat mencegah mengompol yang berkelanjutan pada anak. Percayakah para Mom?

Berdasarkan salah satu penelitian yang diadakan di Amerika, bayi yang tidak minum ASI lebih cenderung ngompol dibandingkan bayi yang diberi ASI. ASI selain kaya akan gizi juga mengandung asam lemak yang dapat memperbaiki dan mempercepat pertumbuhan otak sedangkan mengompol (primer) terjadi karena terlambatnya pertumbuhan saraf otak. Dari penelitian ini didapatkan hasil : pada anak yang mengkonsumsi susu formula didapatkan prosentasi mengompol yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang hanya mendapat ASI. Mungkin hal ini bisa menjadi pertimbangan para Mom yang masih mempunyai bayi dan Mom-to-be.

Masalah ngompol ini sudah pasti akan meresahkan baik orang tua maupun anak. Karena itu, kita sharing yuk… mungkin ada diantara para bapak dan ibu yang mempunyai pengalaman tentang ngompol ini pada si kecil dan trik-trik apa saja yang dilakukan. Pasti akan sangat menarik dan berguna bagi para orang tua yang lain. Ditunggu ya sharingnya…..

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Agustus 21, 2009 in Tumbuh Kembang

 

Tag: , , , , ,

Masalah Kulit pada Bayi dan Anak

Orang tua kerap bingung terhadap problem yang timbul pada kulit anaknya. Apa sajakah itu? Apakah setiap kemerahan pada kulit bisa disimpulkan alergi? Apa saja kelainan kulit akibat reaksi alergi dan apa saja yang bukan?
Sebelumnya perlu diketahui dulu definisi alergi. Alergi adalah keadaan sensitive yang berlebihan akibat paparan dengan alergen tertentu (yang sifatnya khas pada orang tertentu). Nah, tidak semua kemerahan pada kulit itu berhubungan dengan reaksi alergi.
Miliaria (Biang Keringat)
Gambarannya berupa rash kemerahan dan kasar seperti bintil-bintil pada kulit, menimbulkan gatal, dan diakibatkan karena tersumbatnya saluran keluar kelenjar keringat yang sedang aktif terutama pada keadaan panas dan lembab.

Biang keringat bukanlah reaksi alergi.

Penanganannya: hindari panas dan lembab. Untuk membuka kembali saluran keringat yang tersumbat bisa dengan lanolin anhydrous dan untuk mengatasi gatal bisa dengan calamine lotion.

miliaria

miliaria

Diaper Rash/Ruam Popok (kemerahan di daerah yang tertutup popok)
Diaper rash atau disebut juga diaper dermatitis terjadi karena lembabnya daerah yang tertutup popok oleh urin dan/atau feses. Karena keadaan yang lembab itu maka berbagai hal dapat terjadi, yaitu bisa terjadi infeksi jamur (candidiasis) karena jamur tumbuh subur di lingkungan lembab, dan juga bisa terjadi dermatitis kontak iritan, karena keadaan yang lembab dapat meningkatkan penetrasi zat alkali seperti sabun yang masih menempel pada popok, dan juga feses yang bercampur dengan urin yg bersifat alkali (basa). Keadaan yang basa ini mengiritasi kulit sehingga timbullah diaper rash.

Selain itu diaper rash juga bisa terjadi karena dipicu dengan gesekan popok pada kulit, terutama untuk yang pakai popok sekali pakai karena bahannya tidak sehalus popok kain. Atau bisa juga terjadi setelah konsumsi antibiotik yang berlebihan sehingga mengganggu flora normal dan memberi kesempatan jamur untuk tumbuh subur di tempat yang teriritasi. Diaper rash juga bukan reaksi alergi.

Penanganannya: produk-produk yang mengandung zinc oxide. Bila terbukti ada infeksi jamur, maka dapat diberikan krim antijamur seperti nistatin, clotrimazol, miconazol.

Untuk perawatan di rumah ganti popok sesering mungkin, jaga daerah kelamin dan sekitarnya tetap kering dan bersih.

diaper rash

diaper rash

Eksema Susu
Kemerahan ini biasanya terjadi di sekitar pipi, dahi, kepala, dan leher. Sehingga orang menyebutnya eksema susu, padahal tidak berkaitan dengan susu. Tentunya susu yang tidak dibersihkan bisa saja menjadi iritan dan mencetuskan terjadinya eksema susu ini. Tapi sebenarnya eksema susu itu merupakan manifestasi dermatitis atopik pada bayi. Gambarannya berupa bercak kemerahan kasar bersisik pada kulit dan gatal. Hati-hati umumnya dermatitis atopik bisa ditemukan berkelompok dengan kelainan atopi yang lain misalnya urtikaria, asma, rhinitis alergika, dimana pada kelainan ini dijumpai IgE yang berlebihan dalam darah. Masalah kulit ini berkaitan dengan reaksi alergi. Jadi perlu dicari tahu pencetusnya, bisa berupa makanan, debu, tungau debu rumah, ataupun binatang.

Dermatitis atopik pada anak gambarannya agak berbeda. Biasanya selain bersisik juga bisa basah, dan bisa terjadi penebalan kulit karena sering digaruk. Letaknya juga agak berbeda. Bercak kemerahannya biasanya berada di daerah lipatan kulit seperti di siku, lipatan belakang lutut, dan lipatan bokong-paha.

Penanganannya:

  1. Pelembab. Keadaan yang lembab merupakan kunci penanganan karena eksema susu sangat kering dan bersisik, dengan menambah kelembaban fungsi kulit akan dikembalikan seperti semula. Pilih pelembab yang berbasis lemak (krim) yang mempunyai efek anti gatal, antibakterial sekaligus atioksidan karena akan melindungi kulit dari gangguan lemak oleh radikal bebas yg terjadi karena proses radang tersebut.
  2. Obat-obatan:
    1. Steroid topikal. Reaksi radang dapat dikurangi dengan pemberian steroid. Potensi steroid disesuaikan dengan berat ringannya eksema susu
    2. Calcineurin inhibitor seperti tacrolimus dan pimecrolimus yang berfungsi sebagai imunomodulator (pengatur imun), tapi golongan ini hanya untuk anak berusia 2 tahun atau lebih.
eksema susu (Dermatitis Atopik pada bayi)

eksema susu (Dermatitis Atopik pada bayi)

dermatitis atopik pada anak

dermatitis atopik pada anak

Urtikaria
Bahasa awamnya kaligata. Urtikaria juga merupakan reaksi alergi. Tapi ini merupakan reaksi alergi tipe 1 yang bersifat cepat. Jadi timbul tak lama setelah terpapar dengan alergen, misalnya obat-obatan, makanan, gigitan serangga, serbuk bunga, lateks, dan lain-lain. Gambarannya berupa bentol yang besar-besar, gatal, dan kemerahan. Reaksi ini dapat disertai dengan kelainan yang lebih serius misalnya angioedema (bengkak di saluran napas sehingga timbul sesak), ataupun bronkospasm, bahkan hingga syok anafilaktik.

Penanganan:

Bawa ke UGD karena termasuk kegawatdaruratan. Dokter akan memberikan antihistamin dan kortikosteroid sebagai pertolongan pertama.

urticaria

 
13 Komentar

Posted by pada Agustus 18, 2009 in Perawatan Bayi

 

Tag: , , , , , , , , ,

Home Schooling

Beberapa hari yang lalu saya membaca  artikel mengenai “home schooling”. Saya jadi teringat homeschooling yang saat ini juga sedang beken di Indonesia terutama di Jakarta (salah satu contoh adalah musisi beken Indonesia  Ahmad Dhani yang semua anaknya mengikuti program home schooling). Rasanya jadi tertarik untuk membacanya…

Kenapa sih alasan ortu memperbolehkan anaknya untuk mengikuti home schooling. Mengapa ortu lebih tertarik dengan home schooling dibanding mempercayakan pendidikan anaknya ke suatu institusi pendidikan resmi  “sekolah “ yang sudah jelas-jelas menjadi program utama pemerintah dalam pendidikan. Dalam kesempatan ini saya ingin berbagi dan bertukar pendapat dengan para ibu dan bapak…. Siapa tau setelah saling sharing, diantara kita ada yang tertarik dengan home schooling atau malah berpindah dari home schooling ke sekolah biasa………

Dari yang saya baca, home schooling merupakan pendidikan berbasis rumah, yang memungkinkan anak berkembang sesuai dengan potensi diri mereka masing-masing (Daryono, 2008). Dengan kata lain home schooling memberikan fleksibilitas kepada anak untuk belajar tanpa harus terbebani dengan rutinitas dan kurikulum yang sangat berat seperti pada sekolah formal, salah satunya masuk sekolah jam 6.30….. jadi untuk anak yang rumahnya jauh dari sekolah, harus bangun pagi jam berapa ya? (makin pagi aja ya sekarang…?). Home schooling mendidik anak untuk belajar berdisiplin dan bertanggung jawab atas dirinya (tentunya harus dengan pantauan dan panduan orang tua). Beberapa keuntungan dari home schooling yang saya baca adalah:

  1. Beban stress yang lebih rendah dibandingkan dengan sekolah formal (para bapak dan ibu pasti tahu dengan PR dan ulangan yang tiada henti…. Kadang PR anak juga berarti menjadi PR  ibu dan bapaknya hehe)
  2. Menangkap bahan yang diajarkan dengan lebih fokus tanpa terganggu oleh ributnya kelas, temen yang iseng dsb.
  3. Anak lebih nyaman dengan lingkungan belajar (Ya… iyalah….. dirumah sendiri, gimana ga nyaman….?? Apalagi kalo gurunya mamanya sendiri….. ???)
  4. Memperkecil  resiko terhindar dari pergaulan yang tidak baik seperti tawuran, kenakalan remaja, narkoba (meskipun hal ini bukan tidak mungkin dapat terjadi juga).
  5. Hubungan antar anggota keluarga akan terasa lebih dekat karena waktu bersama dirumah jadi lebih banyak.
  6. Bakat dan minat anak dapat lebih tersalurkan dan dikembangkan karena waktu yang tersedia juga lebih banyak.

Sedangkan kekurangannya:

  1. Kemampuan bersosialisasi  diantara  teman-teman sebaya yang kurang dibandingkan disekolah. Tapi ada juga artikel yang mengatakan lebih banyaknya waktu luang pada home schooling memungkinkan anak untuk bergaul dengan segala tingkatan usia dan ini akan memberi efek positif juga pada kemampuan bersosialisasinya.
  2. Karena pada home schooling pengajarnya adalah orang tua, terutama ibu, maka waktu luang yang berharga yang dimiliki para ibu akan berkurang juga. Mungkin untuk 1 atau 2 bulan masih belum terasa tapi kalau bertahun-tahun?? Ehm….. mungkin perlu dipertimbangkan juga.

Yang penting untuk ditekankan disini adalah pada home schooling motivasi, kesabaran, disiplin dan komitmen orang tua sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar dirumah.

Jadi para ibu, setelah membaca artikel ini, bagaimana nih pendapatnya? Yuk kita sharing…… lebih setuju sekolah formal atau home schooling nih? mungkin bapak atau ibu yang anaknya mengikuti home schooling juga bisa membagi pengalamannya disini. Para Mom-to be atau yang anaknya masih balita juga ikut kasih pendapatnya ya, kan pasti sudah punya sedikit bayangan ingin pendidikan seperti apa untuk si kecil nanti. Pendidikan anak adalah tanggung jawab orang tua, yang kadangkala dapat menjadi persoalan bila orang tua  mempunyai pandangan dan keinginan yang  berbeda untuk pendidikan si kecil meski saya percaya semua pasti ingin yang terbaik untuk buah hati kita. Jadi para bapak dan ibu….. ditunggu ya sharing dan pendapatnya…

 
6 Komentar

Posted by pada Agustus 13, 2009 in Kata Hati

 

Tag: , ,

Cara Membedong Bayi

Cara Membedong Bayi

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Agustus 3, 2009 in Perawatan Bayi

 

Komunikasi Ideal dengan Anak

Setelah membaca artikel di majalah Parents Guide edisi April 2009 mengenai komunikasi dengan anak, saya jadi merenung dan introspeksi diri tentang peran saya sebagai ibu dan cara saya berkomunikasi dengan anak saya. Seperti halnya ibu-ibu jaman sekarang yang kerapkali harus berperan ganda, sebagai ibu rumah tangga sekaligus ibu bekerja, atau ibu berwirausaha, tentunya waktu berhadapan langsung dengan anak menjadi sangat terbatas. Sesekali di saat-saat tertentu dimana mungkin saya sedang sensitif dan sentimentil, terbersit perasaan sedih yang mendalam. Saya membayangkan kalau saya di posisi anak saya, pasti sedih ya sebentar sekali bisa bertemu dengan maminya. Mungkin ada saat-saat dimana dia ingin ditemani tidur siang, atau bosan bermain dengan susternya. Berbeda dengan saya yang dibesarkan oleh ibu saya yg full time mother bisa bertemu dengan ibu saya kapan saja.

Tapi apa daya apabila keadaan tidak memungkinkan untuk diubah, saya yang harus mengupayakan komunikasi sepositif dan seefektif mungkin dengan anak saya dengan waktu yang terbatas agar ia mempunyai karakter yang baik.

Oleh karena itu perkenankan saya membagikan apa yang saya baca di majalah Parents Guide yang sudah menjadi berkat buat saya, tentunya isi dan gaya bahasa berbeda sesuai pesan yang saya tangkap tanpa mengubah pesan yang dikandung.

 

Pada dasarnya ada 2 bentuk komunikasi yaitu komunikasi verbal dan non-verbal (misalnya melalui bahasa tubuh, ekspresi, gerak-gerik, dan lain-lain). Keduanya harus sejalan untuk kita bisa menyampaikan pesan dengan baik. Apalagi untuk anak di bawah 1 tahun dimana bahasa non-verbal yang lebih banyak ditangkap.

Saat berkomunikasi dengan anak, orang tua harus turun ke tingkat anak-anak, artinya bahasa yang kita pakai juga mudah dimengerti oleh anak, lalu saat kita berbicara hendaknya tinggi kita sama dengan anak, misalnya kita bicara dengan berlutut atau membungkuk sehingga kontak mata menjadi sejajar dan anak tidak merasa diintimidasi.

Dan perlu dipahami bahwa komunikasi itu sifatnya 2 arah, jadi sebagai orang tua kita juga harus bisa menjadi pendengar yang baik, dengan begitu anak bisa terbuka dengan kita.

 

Inilah kiat-kiat komunikasi produktif:

  1. Jadilah teladan. Anak belajar dari hal-hal yang konkret. Mereka lebih mudah belajar dari teladan orang tuanya daripada dari apa yang kita ucapkan. Percuma saja bila kita minta mereka untuk merapikan mainan bila kita pun membiarkan buku, laptop, cangkir kita berantakan.
  2. Anak itu seperti busa. Otaknya menyerap segala apa yang dilihat dan didengarnya. Oleh karena itu kita sebagai orang tua harus mengendalikan informasi apa saja yang boleh masuk ke otak anak karena itu pula yang akan mempengaruhi sifat, dan perilaku si anak.
  3. Gunakan kata-kata yang positif. Jangan gunakan kata-kata yang negatif yang mematahkan semangat anak. Dampak komunikasi yang negatif sangatlah parah, anak bisa kehilangan sifat lembutnya, menjadi keras hati, dan suka pada kekerasan. Akibat lainnya anak juga menjadi terbiasa berpikir negatif. Artinya saat ada orang yang ingin berbuat baik terhadapnya anak justru akan berpikir negatif. Ia tidak bisa lagi membedakan kapan ia salah dan benar. Karena segala yang ia lakukan seolah-olah dinilai negatif oleh orang lain. Misalnya saat sang anak sedang tiduran di karpet sementara sang ibu sedang menyapu lantai, sang ibu menyindirnya, ”Sudah tahu Ibu sedang menyapu, kok kamu bukannya membantu malah tidur-tiduran saja.” Tapi saat si anak mencoba membantu menyapu, apa jadinya bila si Ibu berkomentar, ”Tumben kamu mau bantu Ibu.” Si anak tentu akan bingung apa yang sebenarnya harus mereka lakukan. Mereka merasa apapun yang dilakukan akan salah, tidak ada yang benar.
  4. Hukum dengan cinta. Anak membutuhkan batasan pada setiap kegiatan agar tidak kebablasan, tapi disiplin yang diterapkan harus atas dasar cinta, bukan dendam atau benci. Anak harus mengerti bahwa hukuman itu ada karena mereka dicintai orang tuanya agar menjadi orang yang lebih baik. Beban hukuman hendaknya disesuaikan dengan kapasitas si anak dan jangan melebihi perbuatannya.
  5. Dengarkan dia. Ada beberapa tips menjadi pendengar yang baik:
    1. Pelihara kontak mata. Dengan kontak mata anak merasa bahwa orang tua tertarik dengan cerita mereka.
    2. Hilangkan gangguan. Saat anak menyatakan keinginan untuk berbicara, segera tinggalkan kegiatan yang sedang kita lakukan. Berikan perhatian penuh agar anak merasa ia sesuatu yang penting untuk kita.
    3. Jangan memotong saat anak berbicara. Usahakan seminim mungkin melakukan interupsi. Bahkan kita dapat memberikan dorongan melalui senyuman dan sentuhan.  
    4. Bila ia sulit untuk bercerita, pancinglah dengan pertanyaan terbuka misalnya apa, bagaimana, siapa.
    5. Terbukalah pada anak. Semakin banyak orang tua bersikap terbuka, semakin terbuka pula anak pada orang tua.
    6. Bila perlu jadwalkan secara berkala. Buat kegiatan bersama secara berkala misalnya seminggu sekali. Yang terpenting bahwa setiap anggota keluarga diberi waktu untuk bicara dan didengar oleh anggota keluarga lain.
    7. Jujurlah bila kita tidak tahu. Kita tidak mungkin menjadi orang tua sempurna yang tahu segala hal. Jadi bila kita tidak bisa jawab pertanyaan jawab, katakan saja tidak tahu dan minta waktu pada si kecil untuk mencari jawabannya.   
  6. Masuklah dalam dunia si anak. Misalnya terlibat dalam kehidupannya di sekolah. Biarkan anak-anak mengajak temannya main ke rumah kita dan jadilah teman yang menyenangkan bagi mereka.
  7. Makan malam bersama. Waktu makan malam merupakan saat yang tepat untuk mendengarkan ungkapan kebahagiaan atau kesedihan anak sambil kita memahami apa yang dilakukan anak.
  8. Biarkan anak mandiri. Anak punya naluri untuk ingin mencoba sendiri. Jadi kita jangan terlalu cepat ingin membantu. Jadi beri ia kesempatan untuk mencoba. Misalnya biarkan ia memakai baju atau sepatu sendiri, walaupun berantakan dan butuh waktu lama. Kita boleh mengarahkan tapi jangan mengambil alih. Setelah ia mendapatkan kenyataan bahwa ia dapat melakukannya sendiri, itu akan menambah rasa percaya dirinya.
  9. Positive thinking. Pikiran yang positif akan banyak membantu pekerjaan kita termasuk dalam menghadapi si kecil.

 

Berkomunikasi dengan anak bukanlah sesuatu yang sulit asalkan kita mau berlatih dan mempraktekkannya mulai sekarang. Kita memang tidak akan menjadi orang tua yang sempurna tapi yang penting kita selalu berusaha untuk berkomunikasi positif dengan anak sedini mungkin.

 

Ini dia hasil yang akan kita dapatkan bila kita bisa menerapkan komunikasi yang baik dengan anak:

  1. Hubungan dengan anak semakin dekat.
  2. Diberi kepercayaan.
  3. Anak mau melakukan apa yang diinginkan orang tua.
  4. Anak akan semakin hormat pada orang tua.
  5. Anak merasa didengarkan orang tua.
  6. Merasa nyaman berada di dekat kita.
  7. Mudah bekerjasama.
 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Agustus 3, 2009 in Kata Hati

 

Tag: , , , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: